08 Maret 2014

Bagaimana Kalo Saya Ceritakan Sebuah Dongeng, Dongeng yang Lebih Bagus dari Tempe, Detak, KaPK dkk

Jika Anda rajin menonton film kartun Disney layar lebar, tentunya Anda familiar dengan judul film Cinderella, Red Riding Hood dan sebagainya. Film kartun "ramah anak" tersebut tentunya telah melalui berbagai proses penyuntingan agar dapat disimak oleh pemirsa anak-anak.

Konon cerita asli Cinderella menampilkan adegan sadis ketika para saudara perempuan Cinderella mencoba sepatu kristal yang jatuh tertinggal. Karena tidak muat, kakak yang pertama terpaksa harus memotong jari kaki dan kakak yang kedua ikut memotong bagian tumitnya.Whew

Begitu juga dengan cerita Red Riding Hood (gadis bertudung merah). Nenek si gadis ternyata lebih dulu dibunuh oleh manusia serigala. Kemudian ketika si gadis bertudung datang ke rumah nenek, serigala yang menyamar menjadi si nenek seketika menangkap dan memaksa si gadis untuk memakan daging neneknya sendiri (kanibalisme). Setelah itu, gadis tudung merah diperkosa dan akhirnya dimakan oleh serigala.

Kali ini saya mau bercerita tentang dongeng. Tidak jauh-jauh, karena dongeng ini terjadi di Endonezwah. Sebuah negeri antah-berantah dengan blah blah blah nya dan blah blah blah nya (silakan isi sendiri). Sebuah versi lain dari dongeng yang selama ini beredar di pers cetak dan digital, seperti Tempe, Detak, dkk.

Dongeng versi Tempe-Detak menyatakan bahwa Lutpie Hazan Izhack (LHI) adalah koruptor uang senilai satu miliar (1 M). Uang tersebut diberikan oleh Amad Fetonah (AF) kepada LHI dengan maksud meminta LHI menaikkan quota impor daging sapi, dan menjadikan perusahaan (Ind0guna) sebagai perusahaan pengimpor daging sapi.

Kali ini saya punya cerita versi lain, "dongeng" yang saya kira tidak kalah menarik. Siapa tahu Anda penasaran versi lainnya, karena film Disney sendiri melalui versi pengeditan agar "nyaman dibaca" oleh "anak-anak". Jadi, mungkin saja Anda tertarik untuk versi "dewasanya"

Berikut ini adalah kisahnya.

Ind0guna adalah perusahaan swasta, yang juga berarti adalah instansi swasta. Ketika AF memutuskan untuk memberikan uang perusahaan kepada LHI, maka kejadian ini bukan termasuk tindak korupsi karena tidak ada uang negara yang dirugikan.

Seandainya uang tersebut diterima oleh LHI, maka kasus ini mungkin saja masuk dalam kategori penyuapan. Sayangnya LHI bukan pejabat penentu kebijakan, melainkan anggota DPR dengan fungsi pengawasan. Maka pemberian uang 1M oleh AF tersebut sama sekali bukan penyuapan.

KaPK menyatakan bahwa penyuapan telah terjadi karena LHI dapat memberikan pengaruhnya sebagai ketua Partai Kesejahteraan Seadilnya (PKS) kepada kadernya yang menjabat sebagai Menteri Pertanian, Suswana (Sus), untuk menaikkan quota impor sapi. Penggunaan pengaruh ini sendiri belum diatur dalam undang-undang NKRI, walau secara logis masuk akal.

Namun pada dongeng kali ini, kuota impor sapi justru mengalami penurunan sejak tahun 2010 hingga 2012. Sementara itu, LHI sendiri tidak pernah menerima uang yang dibawa oleh AF karena penangkapan keduanya berlangsung di tempat terpisah. OTT (Operasi Tangkap Tangan) KaPK hanya terjadi pada AF yang sedang berada di hotel bersama Maharano.

Dongeng ditutup dengan Tempe dan Det1k menampilkan foto-foto seksi istri dan perempuan yang berhasil digebet oleh AF. Tak lupa juga lampiran sadapan komunikasi LHI dengan Daren Multzame untuk membuktikan LHI sebagai bandot doyan perempuan berkedok poligami. Namun pertanyaan besar yang sering dilupakan adalah relevansi festivalisasi perempuan-perempuan dengan kasus korupsi itu sendiri.

Jika Anda mengenal karakter Sitox Sisange (SS), dalam dongeng lain "Pemerkosa Mahasiswa UI Fakultas Ilmu Budaya", Anda akan sering sekali melihat artikel di media Tempe dengan tema-tema untuk tidak mengurusi urusan privat orang lain terkait dengan karakter Sitox.

Padahal apa yang ia lakukan adalah pemerkosaan (anak hasil perkosaan telah lahir), dan hebatnya tindak perkosaan SS hanya didakwa sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Berbeda sekali dengan pemberitaan poligami (suka sama suka) LHI yang secara membabi buta diekspresikan sebagai pria hidung belang.

Serius beroh, poligami yang dilakukan berlangsung damai di antara para istri-istri LHI, walau mungkin saja ada gejolak yang kita tidak ketahui (semisal A'a Jimmy dan Teh Nina yang sempat bercerai karena poligami, namun sudah rujuk). Tapi pemerkosaan, apakah harus dimaklumi?

Jika Anda menyimak sejarah percintaan Bung Karn0, beliau menikah sampai sembilan (9) kali, dan tiap melangsungkan pernikahan dengan istri yang baru, istri-istri yang lama beliau tinggalkan (tiap pemimpin punya kelemahan, mungkin ini salah satu kelemahan Beliau).



Berikut ini sekelumit link yang bisa Anda baca di negeri lain, entah di galaksi mana. Mungkin saja Anda tertarik untuk menyimaknya, cerita yang agak-agak mirip dengan dongeng di negeri Endonezwah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar